Kamis, 27 Mei 2021

CERPEN

 Citarum Harum 

Aku--yang pernah tinggal di Ujung Karawang, dan punya segenggam kenangan kelam di sana. Tak pernah berpikir untuk kembali, ke Ujung Karawang. Keluargaku hancur di tempat itu, menyisakan aku seorang diri.

Ayahku mati karena penyakit kudisnya, tak lama Ibuku juga mati karena gangguan sesak napas berkat pabrik batu bara dekat rumahku dulu, adikku satu-satunya juga ikut mati secara perlahan karena keracunan air minum yang diambil dari ujung sungai Citarum itu.

“Ning, Uwa sudah siapkan itu bekal buatmu nanti di jalan,” suara Uwa Imah bergema dari dapur. Uwa Imah dan suaminya, Uwa Bedil yang merawatku setelah tahu aku hidup sendiri dan mungkin dalam keadaan yang hampir mati juga. Mereka merawatku sampai sekarang. Menyekolahkanku hingga tamat sarjana Teknik lingkungan, dari salah satu Universitas swasta di Ibu kota.

“Iya, nanti Bening bawa, makasih Uwa,” Aku masuk ke dapur dan bergegas pergi untuk acara pembersihan Citarum besok pagi dalam program rutin sungai Citarum harum di Ujung Kerawang. Aku di arahkan untuk menginap di rumah salah satu warga demi menghemat waktu perjalanan.

Sudah beberapa bulan yang lalu, Aku bekerja di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jakarta. Tadinya pekerjaanku hanya meneliti sample-sample air minum. Namun satu bulan, setelah Presiden mengeluarkan peraturannya No.15 tahun 2018 tentang Percepatan pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum, aku dipindah tugaskan di Program Sungai Citarum harum. Yang mungkin Sekarang pekerjaanku akan bolak balik Jakarta-Karawang, demi terlaksana Citarum Harum dalam 7 tahun kedepan.

Hari sabtu pagi itu aku bersama beberapa teman Mahasiswa dari berbagai Universitas, anggota TNI dan warga sekitaran sungai Citarum Ujung Karawang melakukan acara bebersihan. Limbah plastik yang ditemukan lalu dikumpulkan dan dibersihkan untuk diolah kembali menjadi kerajianan oleh teman-teman Mahasiswa yang akan mengajari warga sekitar bagaimana cara mengolah limbah plastik yang setiap hari mereka lihat mengambang di bantaran sungai Citarum sekitaran rumah mereka. 

Sedangkan aku, selain ikut membersihkan aliran sungai Citarum di Ujung Karawang ini juga mengambil sample air pertamaku untuk diteliti nanti di kantor. Dari warna dan harumnya sudah bisa kuduga ini tak layak jika digunakan untuk mencuci bahkan untuk diminum sekalipun. Namun sayangnya 80% air minum untuk daerah Jakarta dan sekitarnya berasal dari sungai Citarum. Aku berdoa semoga kemalangan adikku yang mati secara perlahan karena keracunan dari air sungai ini tidak terulang oleh orang lain.

Teteh, nama panjangnya lucu ya, ada Citarumnya,” Celoteh bocah kampung sini membuyarkan lamunanku tentang sample air sungai yang hampir berwarna hitam ini. bocah kecil yang terlihat polos itu bisa membaca bordiran nama di kemeja seragam lapanganku. Bening Citarum, begitulah tertulis nama pemberian Almarhum Engkong.

“Oh iya dong, cantik ya nama Teteh,” aku tersenyum ramah menanggapi celoteh polos bocah yang mungkin baru bisa membaca itu. Dia mengangguk dan berlalu begitu saja.

Bicara soal nama aku jadi teringat Engkong yang mungkin punya harapan dari namaku, Bening Citarum. Seingatku juga Engkong suka bercerita tentang betapa beningnya Sungai Citarum saat beliau masih kecil. Bercerita begitu bahagianya berenang dan memancing ikan di sungai Citarum yang bening dan bersih. Memandang ikan-ikan yang berenang dari permukaan air. Dan hanya menyisakan kesedihan di penghujung masa tuanya, menyaksikan sungai Citarum yang dia ceritakannya dulu pernah indah sudah kini airnya berubah warna menjadi coklat kehitamaan dan ikan-ikan yang dulu mungkin terlihat jelas dari permukaan sekarang mungkin mati tertutup sampah dan limbah. Citarum berair bening yang pernah Engkong bicarakannya tak pernah Aku lihat.

 Sampai beliau meninggal di umur 67 tahun pun, keinginannya melihat sungai Citarum kembali bening tidak terlaksana, hanya tersisa doa dalam nama yang beliau berikan untukku. Bahkan mungkin akibat masalah-masalah lingkungan yang timbul dari sungai Citarum merenggut nyawa anak sulungnya, menantunya dan satu cucunya bahkan dirinya sendiri yang terkena infeksi penyakit kulit yang susah diobati karena penyakit Diabetes yang diidapnya juga. Infeksi penyakit kulit itu berawal dari air sungai Citarum yang sering dibuat mandi olehnya.

Mataku mulai basah, ketika mengingat kepergian keluargaku karena sungai ini, mungkin bukan sungainya, mungkin juga bukan airnya, tapi mungkin karena limbahnya yang mencemari air sungai Citarum. Yang salah bukan alamnya, yang salah manusianya yang tidak bertanggung jawab dengan lingkungannya.

“Bening, kemari sebentar, tolong kamu lihat ini!” salah satu anggota TNI yang memanggilku agak keras, yang membangunkanku dari lamunan. Aku bergegas untuk melihat apa yang terjadi lagi kali ini.

Yang kulihat pipa yang tadinya ditutup oleh semen beton ambrol dan mengeluarkan air limbah bewarna putih. Tak butuh waktu lama Aku langsung mengambil sample air limbah bewarna putih itu sebelum tercampur dengan pekatnya air sungai. Mencoba mengambil barang seadanya untuk menampung air limbah dari sisa pipa yang tidak ambrol. Dibantu beberapa anggota TNI, Aku berhasil mengambil bukti sample air limbah dari pipa pembuangannya.

“Padahal sudah kami beton semen itu pipanya, biar air limbahnya nggak keluar Teh, ternyata cuma bertahan beberapa bulan doang ya,” seorang warga mencoba menjelaskan kenapa pipa-pipa dari pabrik itu di sumpal dengan semen yang sudah mengeras. Rupanya warga sekitar sudah melakukan inisiatif terlebih dahulu untuk menjaga lingkungannya sebelum presiden mengeluarkan peraturannya untuk sungai ini, sungguh ide yang cukup membuatku kagum.

“Dari warnanya saya mungkin bisa menebak ini dari pabrikan kertas atau semacamnya,” aku mencoba mengambil kesimpulan sendiri dan dibenarkan oleh warga disini.

“Iya Teh, bener itu dari pabrik kertas itu,” Aku menghela nafas panjang, hampir tidak yakin dengan program Sungai Citarum Harum. Bagaimana bisa jika yang satu menjaga yang lain merusak, yang satu memelihara yang lain merusak. Satu pihak telah tersedar pentingnya menjaga lingkungan, yang satu hanya mementingkan kepentingannya.

“Bening, sekalian mau menyusuri sungai nggak, barangkali ada air limbah atau kita menemukan titik air limbah lainnya,” Aku mengangguk setuju, yang sudah diatas sampan sejak tragedi air limbah berwarna putih tadi. Dengan Bapak Suripto, salah satu anggota TNI angkatan Laut yang juga ikut membantu dalam program Sungai Citarum Harum.

Sampan belum melaju begitu jauh dari titik limbah dari pabrik kertas yang tadi, sekarang aku sudah menemukan limbah bewarna merah, yang aku tahu pasti ini adalah limbah dari sisa pewarnaan bahan tekstil.

“Kalo ini dari pabrik batik Teh, sudah ditegur warga sekitar sini, tetep aja belum diolah air buangannya, padahal dia sudah dapat pelatihan dari pemerintah tahun lalu bagaimana mengolah air limbahnya sebelum dibuang ke sungai,” warga yang mendayung sampan dengan Pak Suripto mencoba memberiku penjelasan.

“Kok tidak dilaporkan saja ke pemerintah lagi pak,” Aku mencoba memberi solusi kepada bapak itu.

“Aduh susah Teh, apalagi banyak warga kami juga yang sudah kerja disana, gantungin nasib jadi buruh disana, kalau kami ingin melapor mereka melarang. Katanya kalau pabrik ditutup atau bahkan mereka di berhentikan jadi buruh mau makan apa mereka Teh,” Aku bahkan Pak Suripto cukup terkaget dengan penjelasan bapak ini.

Loh, Pak Suheib harusnya tetap melapor, apalagi dengan adanya program Citarum Harum ini. Yang ngeluarin peraturan Presiden langsung loh Pak, kalau hanya kita-kita saja yang tersadar nggak akan tercipta Citarum Harum nantinya. Pikirkan juga anak cucu bapak yang mungkin akan terkena dampak dari air limbah di kemudian hari dari air Citarum yang tercemar ini Pak,” Pak Suripto mencoba memberi arahan kepada Pak Suheib tentang masa depan warga sekitar sungai Citarum ini, betapa pentingnya melaporkan hal tersebut.

“Tapi Pak, keluarga saya sudah meninggal disini, karena air limbah dan polusi dari pabrik-pabrik itu, yang mencemari air dan udara. Sisa saya seorang dan sangat ingin memperbaiki lingkungan ini, bagaimanapun saya terlahir di sini, sebelum ada korban selain keluarga saya, mari kita bersihkan sungai Citarum ini Pak,” sambil tersenyum, Aku mencoba menjelaskan bagaimana Keluargaku habis disini. Aku ingin Pak Suheib mengambil hikmah dari pengalaman hidupku yang tertinggal di sini.

Aku kembali mengambil sampel air limbah dengan hati-hati, takut berbahaya karena belum tahu apa yang tekandung di dalam air limbah berwarna merah itu. Memasukannya dengan hati-hati kedalam tas sample. Air limbah yang aku temukan bewarna merah dan putih, seperti bendera indonesia saja, tapi sayang itu dari air limbah ulah warga negaranya sendiri.

“Kita sepertinya tidak bisa lebih jauh lagi nih, soalnya di depan ada Pabrik batu bara, limbahnya bahaya banget. Saya nggak mau ambil resiko Pak, Teh,” Pak Suheib memberi kami peringatan.

“Yasudah lah. Kita kembali saja ya Bening,” Aku mengangguk setuju. Tanpa kusadari mataku masih sibuk mencari sebuah kampung dekat sana yang bersebrangan dengan pabrik batu bara, karena asap dari pabrik batu bara itu Ibuku mati. Ternyata sekian tahun masih bertahan juga pabrik itu, padahal sangat menganggu dan sudah memakan korban jiwa, sangat disayangkan.

“Jadi apa yang akan dilakukan oleh PUPR dengan hal ini Bening,” Pak Suripto menanyai langkah yang akan dilakukan oleh PUPR setelah aku menilik kenyataan di ujung sungai Citarum ini.

“Saya akan berkoordinasi dengan PUPR Jakarta, Bekasi dan Karawang, bila memungkinkan untuk membangun Instalasi Pengolahan air limbah Grey Water Bio Rotasi, untuk mengolah air limbah tadi menjadi air bersih yang bisa digunakan kembali untuk warga disekitar sini,” Aku menjelaskan hal ini secara detail, dan mungkin membawa kabar gembira untuk Pak Suheib.

“Iya, kita memang kurang air bersih Teh, banyak yang kudisan karena keseringan mandi pake air sungai yang kotor,” Aku tidak heran dengan kebiasaan warga disini yang mandi dengan air sungai yang kotor dan juga tidak asing dengan penyakit kudis itu sendiri, berbeda dengan Pak Suripto yang terbelalak kaget dengan penuturan Pak Suheib.

“Masa sih Pak? aduh..,” Pak Suripto hanya mengaduh mendengar kenyataan itu.

“Di sini sudah biasa Pak, Ayah saya juga mati karena kudisan,” aku mencoba menimpali penuturan Pak Suheib. Aku dan Pak Suheib tersenyum miris melihat Pak Suripto yang tiba-tiba bergidik ngeri sendiri.

“Semoga setelah kamu melapor tentang ujung Karawang sebagai ujung sungai Citarum ini dan bagaimana warganya bertahan hidup di sini dengan air limbah, bisa segera terbangun itu Instalasi Pengolarah airnya ya, saya cuma bisa bantu bersih-bersih tiap 2 minggu sekali, selebihnya warga sini yang menjaga dan warga pasti menunggu air bersih untuk hidup mereka yang lebih baik,”

Aku mengangguk dan mengamini di dalam hati untuk semoga yang yang Pak Suripto ucapkan.

“Semoga Pemerintah Daerah cepat dan tanggap dengan hasil laporan yang nanti akan saya buat Pak, jadi kita berjuang bersama-sama bukan hanya membuang limbah bersama-sama,”

Banyak harapan untuk Citarum yang mudah-mudahan bisa menjadi ‘Harum’ seharum namanya yang sudah tercatat sebagai sungai terkotor nomer 2 di dunia. Semoga semakin banyak dukungan dan banyak warga yang akan tersadar dengan kebersihan sungai Citarum. Aku Bening Citarum, berbangga untuk membantu perubahan Ujung Karawang dan Sungai Citarum bersama Program Citarum Harum. Salam peduli Lingkungan.

Kamis, 10 November 2016

PENGUMUMAN !

Holla pembaca Setia, saya mau kasih info aja nih buat kalian yang sudah pernah baca cerpen Jatuh hati sampai Sesederhana Air itu menyambung ceritanya(tapi saya acak ceritanya) hehehe. Akan ada lanjutannya, jadi di tunggu aja dan selamat merangkai alur dari satu cerpen ke cerpen lain...

Salam, Gemar Membaca

CERPEN

Sesederhana Air

CERPEN

Secuil Roti Tawar II

CERPEN

Secuil Roti Tawar I


Selasa, 27 September 2016

Cerpen

FICUS RACEMOSA

Puluhan jenis bunga tersebar dibumi ini.Setiap bunga memiliki musimnya untuk merekah indah, begitu juga dengan bunga Udumbara yang hanya mekar 3000 tahun sekali.Udumbara.
Lamabaian angin menyapa wajahku, pagi hari ini sungguh menentramkan jiwa. Kicau burung bersahutan dari gerombolan burung diranting pohon bambu dan itu sangat manis.

Cerpen

Jatuh Hati

Sinar rembulan perlahan terhapus dengan cahaya fajar, dengan perlahan menghiasi awan yang tersebar di langit luas. Menyinari bagian bumi yang aku pijaki. Hari ini, aktivitasku masih sama dengan sebelumnya, bangun lebih pagi dari siapapun yang ada di rumah, demi mengejar waktu yang selalu menguntit, mengingatkan suatu hal yang selalu aku lupakan.

Selasa, 28 April 2015


Harapan belum berakhir  (Part 2)

Di bale depan rumah kontrakan, aku dan ka Herlin bersantai sambil menyantap bakso yang tadi dibelikan ka Herlin, kami makan dalam diam.

Rabu, 22 April 2015

“ 3 Pujangga Negara. “

                3 Pemuda,  berdiri diatas gedung tinggi petang Itu. Membiarkan tubuh mereka terkena efek cahaya matahari yang mulai hilang di ufuk baratnya. Gedung Itu seperti panggung Aspirasi ketiga Pemuda itu. Masing-masing bernama Rendy, vikri dan aswir. Ketiga pemuda yang bersahabat itu, prihatin atas Negrinya. Kepedihan yang disebabkan korupsi. Sejauh mata memandang, mereka hanya melihat kesengsaraan yang bersembunyi di tengah gemerlap kota metropolitan.  Ditengah kemewahan,  ternyata banyak penderitaan yang terselip.  Banyak cerita yang akan terkuak dari atas sini. Dengan setengah hati mereka akan menceritakannya pada semua orang, bahwa Negrinya bukan Negri yang kaya ataupun ramah. Rendy yang memulai untuk bercerita,
Harapan belum berakhir (Part 1)

Malam Ini, langit begitu sepi. Tanpa bintang atau pun bulan yang nampak dan udara pun terasa begitu dingin menerpa kulitku. Menatap langit, aku seperti orang yang buta tanpa adanya cahaya.
Sercercah harapan

Cahaya rembulan berganti mentari,

Pengcahayaan yang remang bergantikan cahaya terang,

Aku menyusuri jalan setapak tanah merah yang lembab,

Bekas hujan kemarin senja,

Menyongsong masa depan dengan perlahan,

Berharap besok nasib akan lebih baik,

Melangkah dengan langkah yang sempit,

Perlahan tapi pasti,Mengikis waktu yang tiada berhenti. 

TRIO BIJAK :
Rei
FTon
El
Pagi,
Saat mentari menyambutku hari ini,
Dengan kehangatan dan cahaya keemasannya,
Membuat sekelilingku menjadi bersinar.

Pagi,
Aku terhanyut dalam aroma hujan semalam,
Yang membasahi tanah yang ku pijak saat ini,
Dedaunan yang menyentuh tanah,
Lalu kembali lagi ke derajat semula,
Hanya untuk menghantarkan embun pagi dengan baik.

Pagi,
Gemercik air aku dengar dari tetesan setiap bulirnya,
Yang menyentuh keramik dekat kolam,
Menghasilkan nada-nada monotrom,
Membuat laba-laba menarik-narik senar sarangnya,
Dua kaki memetik benang halus itu,
Bagai memainkan gitar akustik,
Bernyanyi diiringi tetesan air perdetiknya,
Mengucapkan rasa syukur kepada tuhan dengan apa yang ia bisa.

Pagi,
Air kolam pun  ikut bergoyang,
Membawa kehidupan baru,
Untuk nyawa yang di tinggali ikan-ikan kecil,
Menyambung napas untuk teratai bermekaran,
Bersama sang bunganya.

Pagi, bolehkah aku bertanya satu hal ?,

Mengapa air mata ini juga membasahi wajahku ?



TRIO BIJAK

Ridia Irin (REI)
Fatonah (FTon)
Zahrotun Nissa El Laily (El)

Selasa, 02 Desember 2014

Mading

 Mading adalah kepanjangan dari majalah dinding. Sebetulnya, tidak sulit untuk membuatnya. Namun konsen topik pembicaraan yang ada dalam mading tersebut terkadang sudah keluar dari topik yang seharusnya di bahas. Belum lagi design mading yang harus terlihat luar biasa, agar menarik perhatian pembaca. Bapak deden, sebagai guru seni budaya kami. Menugaskan kami untuk membuat mading yang menarik dan konsen pada satu topik pembicaraan saja. Beliau melatih kita bukan saja untuk membuat mading dengan benar, namun dipadukan dengan seni. Seni design yang ditekankannya tak mengurangi topik pembicaraan. Semua peserta didik kelas 11, di latih untuk membuat mading dengan benar. Saya sendiri, sempat di ajak beliau untuk mendampinginya sebagai asisten mengajar di sebuah Sekolah dasar. Dengan itu, saya mempunyai nilai lebih untuk membimbing teman-teman yang lain untuk membuat mading yang menarik dan konsen pada 1 topik. Saya sendiri tak segan untuk membantu teman-teman.


hasil karya kelas 11 MAN 18 Jakarta :

Sabtu, 11 Oktober 2014

3 tahun yang berkesan
3 tahun beliau mengabdi menjadi kepala sekolah, di MAN 18 Jakarta. Melakukan semuanya dengan penuh tanggung jawab, menjadikan MAN 18 lebih berkualitas dari sebelumnya. Dengan bantuan Bapak, Ibu Guru dan para karyawan sekolah, beliau mampu mengubah segalanya menjadi lebih baik. Seorang wanita yang tegas dan cerdas ini telah memberikan yang terbaik selama 3 tahun yang manis. Membuat kami takkan pernah lupa  akan kerja kerasnya selama ini.
Hari jum’at pagi, 10/10. Kami semua melepas kepindahannya menjadi kepala sekolahdi sekolah lain. Kami yang dibantu anggota OSIS/MPK  membuat kejutan kecil untuk perpisahan di pagi ini. Beberapa siswa dan siswi yang berbakat memainkan alat musik maju, mendampingi kami mengiring nyanyian kami. Sebagai tanda terima kasih. Suasana haru sangat terasa pada hari itu, semua bernyanyi dan meneteskan air mata.  Puisi terbit di tengah lantunan nada yang kami nyanyikan, membuat suasana saat itu itu semakin haru.
Sungguh, apapun yang telah engkau berikan kepada kami, takkan mungkin terbalas dengan kejutan sederhana di pagi ini. Terima kasih kami ucapkan kepadamu Ibu Dra.Yessy Anwar, atas 3 tahun yang sangat berkesan.



Rabu, 17 September 2014



Sandal jepit naik kasta
Bukan hanya rakyat jelata aja yang bisa naik kasta, sandal jepit juga bisa”.
Berita ini bermula setelah sandal jepit swallow dipakai oleh magnae EXO-K dibeberapa kesempatan. Si sendal jepit swallow (warna hijau) ini barang yang sangat dicari oleh para EXO-L (Fans EXO) di seluruh Asia. Kini harga si sendal jepit mencapai $ 20, kebayang dong?. Barang sederhana yang biasa di jual 10rb ini, bisa naik harga jadi $ 20 atau setara dengan 200rb. Ketenaran sang idol adalah sebab utama boomingnya sandal jepit tersebut. Oh Se-Hun, cowo bermarga Oh ini berhasil membuat si jepit swallaow keliling asia setelah memakainya dibeberapa kesempatan saat berada di Indonesia sampai tour EXO di Thailand dia juga terlihat memakai si jepit swallow. Karena banyaknya permintaan barang dari EXO-L luar Indonesia, membuat KPOPers Indonesia meraup keuntungan yang sangat besar. Hal inilah yang membuat para KPOPers atau EXO-L sendiri merasa heran dan lucu. Pasalnya, sandal jepit swallow bisa mencapai pasar asia.
           


Selasa, 16 September 2014



Antara Israel dan Palestina

Berhentilah meniupkan mesiu,
Tidaklah kasihan dengan anak-anakmu ?.
Berhentilah mengelus-ngelus rudal,
Bukankah kalian bangsa yang berakal ?.
Anak-anakmu bersimbah darah,
Manakala hati menurutkan amarah..
BERHENTILAH !

Kulihat langit yang tertutup asap kelabu,
Seperti Palestina yang menunggu,
Meradu nasib yang ditunggu,
Menunggu uluran tanganku dan tanganmu.
.
Entah kapan matahari bersinar kembali,
Menerangi kecerian anak Palestina disini,
Yang menangisi segala cobaan yang terjadi,
Hanya terhisak dalam hati. .

            Kuterus berdo’a untuk Negri Palestina,
            Karena sandiwara Israel dan Amerika,
            Kututuk mereka dalam setiap do’a,        
            Supaya mereka berdamai dalam jiwa..


            

Jumat, 22 Agustus 2014


Artikel ini berisikan tentang cerminan diri akan kekayaan Negara ini, keprihatinan penulis tentang kebudayaan sendiri mulai terlupakan dengan kebudayaan negara lain. Selamat membaca :) 





Kebudayaan Sendiri atau Negara lain ?

Ketertarikan kalian kepada Kebudayaan Negara  lain,  bukan alasan yang tepat untuk kalian-kalian meninggalkan apalagi melupakan kebudayaan sendiri. Sesungguhnya tidak masalah mempelajari atau pun jatuh cinta dengan kebudayaan Negara lain,  tapi masalahnya adalah beberapa dari kita melupakan kebudayaan sendiri dan lebih mencintai kebudayaan Negara lain. Kebudayaan Indonesia sesungguhnya sangatlah indah dan tak akan pernah habis untuk dibahas apalagi untuk dipelajari. Sangat sayang, jika kita sang Penerus bangsa melupakan Kebudayan sendiri, bagaimana kita menjelaskan tetang kekayaan kebudayan Indonesia kepada dunia ataupun anak cucu sendiri, jika diri sendiri melupakan kebudayaannya?.
Kebudayaan sendiri  adalah jati diri, cerminan diri di mata dunia untuk membuat mereka memandang kebudayaan Indonesia.  Bagaimana bisa melihat anak muda Indonesia atau pun kalian yang sedang membaca artikel ini, melupakan kebudayaan sendiri. Baru merasa memiliki budaya sendiri jika sudah di akui oleh negara lain, baru marah jika budaya di akui negara lain. Jangan marah kalau negara lain mengakui kebudayaan kita, karena kebudayaan kita memang indah,.  Saat kalian lebih mencintai kebudayaan negara lain. Mereka merasa memiliki karena mereka merasa mencintainya,karena merasa melestarikannya dinegaranya,  karna merasa yang memiliki  tidak ada peduli dengan kebudayaan tersebut dan berfikir untuk mengakui sebagai kebudayaan mereka. Jadi ini adalah kesalahan kita semua, yang tak pernah menjaga kebudayaan sendiri, tidak pernah melestarikannya, tak pernah berfikir untuk memadukannya dengan kebudayaan negara yang kalian minati. Kebudayaan Indonesia sesungguhnya tak akan pernah habis jika kalian jelajahi dan pelajari satu persatu-satu hingga akhir hayat kalian, cukup cintai apapun kebudayaan negara ini, lestarikan dalam sanubari, di tanam dalam kreasi.


Kamis, 21 Agustus 2014

Renungan tentang Munir

Artikel ini di tunjukan untuk sosok yang sangat Tangguh dalam mengaspirasikan HAM di Indonesia. dan untuk kalian-kalian yang nggak tahu dengan sosok ini silahkan kenalan dulu nih..

Renungan tentang  Munir.



Sosoknya memang tak lagi bersama kita. Tapi, nama besar, perjuangan, idealisme, dan kenangan tentang Munir masih tetap menggema di seluruh pelosok negeri ini.Setelah kematiannya yang dilansir akibat di racun arsenik pada  9 tahun lalu, menjadi ujian sejarah bagi Indonesia. Munir adalah orang yang sangat vocal dalam menyuarakan Hak Asasi Manusia di Indonesia ini. Bukankah itu “profesi” yang mulia karena setiap orang memiliki hak asasi, namun kenapa Munir yang membawa pesan mulia itu justru dibunuh dengan racun Arsenikum. Apabila Munir dianggap berbahaya, mengapa si pembunuh tidak melaporkan saja ke polisi lalu diadakan penyelidikan atas laporan itu ?. Perlu diketahui munir dibunuh dalam pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan dari Indonesia-Amsterdam transit di Singapura. Almarhum adalah orang yang memperjuangkan keadilan HAM, ini adalah pertanyaanya  “kenapa Munir harus dibunuh ?”.
Munir selalu dalam keadaan bahaya sebagai akibat dari kerja-kerja hak asasi manusianya. Terbukti pada 2002 dan 2003, kantornya di serang, dan pada Agustus 2003, sebuah bom meledak di luar rumahnya di Bekasi, jawa Barat. Tiga orang telah divoinis atas keterlibatan mereka dalam pembunuhan Munir, namun hingga kini belum ada titik terang tentang kasus ini. Karena itu Presiden Indonesia di tuntut 5 hal, saat memperingati 9 tahun meninggalnya Munir. Minimnya akuntabilitas penuh yang terus berlangsung atas pembunuhan Munir merupakan penanda  yang menakutkan bagi para pembela HAM negri ini, akan bahaya yang akan selau mengintai  saat mengabdi atas kerja penting meraka.
Inilah 5 tuntutan yang di tujukan kepada Presiden SBY. PR terbesar beliau di akhir jabatannya.
     
     1.    Mempublikasikan laporan di tahun 2005 dari Tim Pencari Fakta Kasus pembunuhan Munir sebagai langkah kunci menghadirkan kebenaran.
    
      2.    Menginisiasikan sebuah investigasi yang independen dan baru oleh kepolisian atas pembunuhan Munir untuk memastikan bahwa semua pelaku, di semua tingkatan, di bawa ke muka hukum sesuai dengan standar – standar HAM internasional.

      3.    Mengevaluasi prsoses pemidanaan lampau atas kasus Munir oleh Kejaksaan Agung, termasuk dugaan pelanggaran standar-standar HAM internasional ; secara khusus, menginvestigasilaporan-laporan tentang intimidasi para saksi dan membawa mereka yang di duga melakukannya ke muka hukum.

    4.    Mengambil langkah-langkah efektif untuk memastikan pelanggaran HAM diinvestigasi secara cepat, efektif dan imparsial, serta mereka yang bertangggung jawab dibawa kemuka hukum lewat pengadilan yang adil.

    5.    Mengesahkan undang – undang khusus yang di tujukan untuk memberikan perlindungan hukum yang lebih baik bagi para pembela HAM.

Namun tragisnya, sebagian besar anak muda penerus bangsa tidak menenal seorang Munir. “Seharusnya anak muda mengenal munir, karena kasusnya sering dibahas di media massa dan media sosial yang diikuti oleh anak muda. Mengenal Munir penting karena terkait dengan persoalan-persoalan hak asasi manusia yang dimiliki oleh anak muda juga,” kata Manager salah satu komunitas peduli tentang Bumi Indonesia, Muhammad Berkah Gamulya.”Yang belum mengenal berarti belum dapt informasi yang cukup, atau belum mau peduli dengan persoalan-persoalan sosial sekitar,” tambahnya lagi.
Ini adalah renungan untuk kita semua. Bagaimana bisa sebagian dari kita tidak mengenal seorang Munir, yang sangat berjasa bagi sejarah perubahan hak asasi manusia indonesia saat ini. Jadikanlah Munir sebagai inpirasi bagi kita semua untuk berbuat kebaikan kepada semua orang tanpa melihat perbedaan agama,suku dll